PENGUASAAN DIRI


(1 Kor 9:25-27)

Menjadi cerdas dalam penguasaan diri membutuhkan sebuah proses terus menerus, melalui dinamika kehidupan. Hidup tidak selalu mudah seperti yang kita inginkan, banya sekali tantangan, gesekan bahkan benturan serta tawaran-tawaran yang menggoda namun ujungnya menghancurkan iman kita.

Menyadari kenyataan ini, sebagai orang percaya hendaknya memiliki penguasaan diri yang matang sebagai benteng yang kokoh guna mencapai tujuan hidup yang sesungguhnya yaitu mahkota yang abadi (1 Korintus 9:25).

Iblis selalu bekerja sekuat tenaga untuk menggagalkan setiap janji Tuhan bagi kita. Ia tak mengenal lelah dalam mencari kesempatan dan membidik celah kelemahan kita (1 Petrus 5:8). Oleh sebab itu kenalilah kelemahan kita sehingga kita bijak menguasai diri.

Nabi musa seorang yang unggul dalam kelemahan hati ia melebihi siapapun di muka bumi ini, namun lemah dalan menjaga sikap berkaitan HARGA DIRI. Disinilah celah bagi iblis untuk menggagalkan musa masuk tanah kanaan melalui tingkah laku bangsa israel yang menghujat dan mengahkan dirinya atas krisis air di padang gurun (Bilangan 20:2-5, Bilangan 12:3).

Musa tersinggung dan merasa kepemimpinannya serta harga dirinya diinjak-injak dan dilecehkan. Musa menjadi marah bukan saja lewat perkataan tetapi juga tindakan gegabah, musa kehilangan kontrol diri, lepas kendali dan gagal dalam penguasaan diri yang berakibat pada dirinya sendiri yang gagal memasuki negeri perjanjian (Bilangan 20:10-12)

Mari kita berhati-hati lewat jebakan iblis yang nampaknya rasional dan logis melalui situasi-situasi tertentu untuk kita menjadi marah dan bertindak salah. Apa yang dilakukan Musa dalam penalaran logika adalah manusiawi, namun kenyataannya hal itu salah dalam pandangan Tuhan. Mari kita refleksikan kisah ini dalam diri dan keluarga kita masing-masing.

Daud adalah salah satu tokoh yang lulus dalam hal penguasaan diri terkait jabata  dan kedudukan. Nampaknya adalah jalan Tuhan melalui cara pintas untuk meraihnya ada di depan matanya. Ada kesempatan bagi Daud membunuh mertuanya yaitu Saul dalam sebuah goa dimana ia bersembunyi. Ini adalah kesempatan baik untuk mendapatkan kemenangan dengan mudah, tapi Daud tidak melakukannya. Daud memilih untuk menguasai dirinya dan ia lebih takut akan Tuhan. Ia menghormati otoritas (1 Samuel 24:6-7).

Kisah ini memberi pengajaran yang baik bagi kita bahwa, jalan atau cara yang nampaknya mudah atau mulus untuk mendapatkan apa yang kita inginkan belum tentu sebuah cara yang Tuhan kehendaki. Jangan mudab tergiur dengan hal-hal yang gampangan, cepat dan instan namun bertentangan dengan kehendak Allah dan prinsil-prinsil Alkitab. Oleh sebab itu sabar dan kuasailah dirimu sebaik-baiknya dalam segala hal (1 Korintus 9:25).

Ingatlah bahwa orang yang dapat menguasai dirinya melebihi orang yang merebut kota (Amsal 16:32) artinya disana banyak jarahan (istilah PL) atau ada berkat melimbah didalam sebuah kota, bila kita lulus memasukinya lewat jembatan PENGUASAAN DIRI.

(Pdt. Endang Basuki, S.Th.)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sekretariat

Selamat datang di website resmi Gereja Pantekosta di Indonesia Jemaat Narwastu (GPdI Narwastu) Jakarta, semoga melalui media ini banyak jiwa-jiwa diberkati, bertumbuh, dalam pengenalan akan Tuhan. Amin.

Recent Posts

Categories

Archives

Tags